Wednesday, August 12, 2026

40 - Memasuki Babak Ketiga

Ternyata hidup sudah sampai di tahap ini. Usia 40 tahun.
Dulu, ketika masih menjadi mahasiswa dan begitu aktif dengan idealisme, saya pernah mengutip sebuah pedoman hidup dari seorang tokoh yang kurang lebih mengatakan: 20 tahun pertama untuk belajar dan beribadah, 20 tahun kedua untuk bekerja dan berkarya, dan 20 tahun ketiga untuk kembali lebih banyak beribadah.
Entah kenapa, kalimat itu begitu melekat dan menjadi semacam slogan pribadi.
Dan hari ini, saya tersadar… saya sudah memasuki fase ketiga itu.
Apakah saya sudah siap?
Atau justru sudah waktunya mengoreksi kembali cara saya memandang hidup?
Mungkin hidup memang tidak sesederhana membaginya menjadi tiga babak. Beribadah, bekerja, belajar, berkeluarga, mengabdi, dan berbuat baik seharusnya tidak pernah benar-benar terpisah.
Namun, memasuki usia 40 membuat saya mulai lebih sering bertanya:
Untuk apa semua yang selama ini saya kerjakan? Dan akan saya bawa ke mana sisa perjalanan ini?
Menariknya, Al-Qur'an menyebut usia 40 secara khusus. Dalam QS. Al-Ahqaf ayat 15, ketika seseorang telah mencapai usia tersebut, doa yang digambarkan justru bukan tentang pencapaian dunia, tetapi tentang bersyukur, beramal saleh, memperbaiki keturunan, dan kembali kepada Allah.

“Ya Tuhanku, berilah aku petunjuk agar aku dapat mensyukuri nikmat-Mu yang telah Engkau limpahkan kepadaku dan kepada kedua orang tuaku, dan agar aku dapat beramal saleh yang Engkau ridhai, serta perbaikilah keturunanku…”

Mungkin inilah makna usia 40 bagi saya.
Bukan tentang berhenti bekerja.
Bukan tentang berhenti bermimpi.
Dan bukan pula tentang merasa bahwa perjalanan sudah selesai.
Justru sebaliknya.
Masih ada pertandingan. Masih ada babak berikutnya.
Nyala api idealisme yang dulu pernah begitu kuat ternyata tidak pernah benar-benar padam. Sesekali ia hanya tertutup oleh kesibukan, tanggung jawab, ambisi, dan rutinitas kehidupan.
Namun setahun terakhir ini, panggilan untuk mulai mempersiapkan fase kehidupan berikutnya terasa semakin sering muncul.
Mungkin bukan lagi sekadar tentang apa yang ingin saya capai, tetapi tentang apa yang ingin saya tinggalkan.
Bukan hanya tentang berapa banyak yang berhasil dikumpulkan, tetapi berapa banyak yang bisa memberi manfaat.
Dan bukan sekadar bagaimana menjalani hidup, tetapi bagaimana mengakhiri hidup dengan baik.
Karena pada akhirnya, kalaupun hidup ini tidak terlalu berhasil menurut ukuran dunia, semoga kita tetap berhasil menemukan jalan pulang kepada-Nya.
Semoga ketika sampai di penghujung perjalanan, Allah memberikan kita sebuah soft ending—akhir yang lembut, tenang, dan diridhai-Nya.
Khusnul khatimah.
40 tahun berlalu.
Masih banyak yang harus diperbaiki.
Masih banyak yang harus dipelajari.
Masih banyak yang ingin dilakukan.
Jadi, bukan saatnya berhenti.
Bismillah, memasuki babak ketiga.
Semoga Allah panjangkan umur dalam kebaikan, berkahi sisa usia, jaga keluarga dan keturunan, dan mudahkan setiap langkah menuju akhir yang baik.
Alhamdulillah for 40.
The game is far from over. 🤲
— “I Lived”

Thursday, July 15, 2021

unexpected question 3

Adam: ayah, allah itu terbuat dari cahaya? Kok dibuku gambarnya tulisan iqro dan cahaya.

Adel: ayah, siapa yg pertama kali diajarin nabi muhammad sholat?

Abyan: ayah, kenapa allah ciptakan orang miskin dan orang jahat? 

Wednesday, June 16, 2021

Unexpected question 2

 Adel : ayah... kenapa Allah Ciptakan setan? biar Allah ada musuhnya ya?

Ayah : nggak nak, malaikat, Setan (Iblis) dan manusia itu semuanya di ciptakan Allah SWT.  Allah SWT maha besar, tidak ada yg mampu menandinginnya. kita semua kecil dihadapannya.


Thursday, May 27, 2021

unexpected question 1

Momen: pagi hari jumat 26 Mei 2021 jam 6.30an. Bang adam SESAK mau BAB, jadi dia nerobos antrian kamar mandi dari kak Adel. Karna ini emergency, kak adel bolehin. Tapi tiba tiba dia sudah basah dan pakai baju rapih dan wangi.

Adam: ayah, tebak adam udah mandi atau belum?
Ayah: udah ya?? Loh kok adam mandi duluan, inikan giliran kak adel.
Adam: ayah jangan bilang kakak ya, nanti dia marah
Ayah: kak adel memang ga tau nak, tapi ALLAH SWT tahu loh. Ayo minta maaf sama kakak. 
Adam: gak mau ah, ayah jangan kasih tau ya..
Ayah: nanti ada berdosa loh,.
Adam: ga apa2x yah, nanti adam buat baiknya banyak-banyak. Biar pahalanya lebih banyak.
Ayah: hah???

Wednesday, May 19, 2021

Rezeki yang Tak Terduga

Seringkali kita cuma tau rezeki datang seperti sebuah keberuntungan. Bagaimana tidak, sholat saja kita buru-buru mau selesai. Bersedekah saja masih mencari pecahan terkecil dengan alasan keikhlasan. Saat ujian datang mengeluh dan saat nikmat datang selalu lupa bersyukur. 
Namun rezeki terus menerus datang, kadang tanpa kita mintakan. Bahkan hebatnya yg kita buruk untuk kita beberapa saat kemudian ternyata lebih baik untuk kita. Dari mana ini semua?
Ternyata, jawaban yg sering kita lupakan. Adalah dari Ayah. Ya... Ayah kita. Beliau berdoa terus menerus, pagi-siang-malam. Jauh di desa sana, jauh di depan dipan reyotnya dan sajadah kusamnya. Berdoa terus menerus untuk kesehatan anaknya, kesuksesan karir anaknya dan kelanggengan rumah tangga anaknya.
Apakah kita sanggup menjadi seorang ayah? 

Thursday, October 22, 2020

Bang Mas Adam dengan Kartu saktinya

Mas Adam dan Kartu saktinya.

Anakku yg kedua, namanya Adam umur 5 tahun 5 bulan. Belum bisa baca, tapi naik sepeda udah lihai.

Ini cerita kartu sakti adam, kami lupa kapan membelikannya. Tapi kartu ini sangat sakti buat adam. Kartu ini sangat mahal dan bernilai.
Menurutnya kartu ini selalu bisa bikin adik dan kakaknya iri, yg baik sama dia akan diajak main kartu dan yg nakal tidak boleh pinjam. Adiknya selalu nangis kalau diancam gak dikasih pinjam lagi.

Kalau ayah bunda sedih, dikasih kartu, 
Kalo ayah bunda marah, adam janji kartunya boleh diambil dan gak dikasih lagi (walaupun gak akan ada yg tega)

Ooohh menyenangkannya masa anak-anak. Andaikan semua masalah bisa diselesaikan dengan selembar kartu dan kita punya stok lembar kartu yg banyak. Setiap kartu yg hilang, akan kembali lagi dengan mudah.

Semoga kami tetap bisa memberikna masa kanak2x yg indah buat adam. 

Friday, February 26, 2016

Ternyata Hidup Sudah Sampai Di Tahap Ini (Alhamdulillah)

Cerita saya dini hari ini...
 
Alhamdulillah.... hidup sudah sampai disini rupanya.
Pagi ini, berkat bantuan dan support dari orang-orang terdekat dan tersayang, saya bisa kembali memakai "toga" setelah menyelesaikan Gelar Sarjana Teknik Pada Jurusan Teknik Sipil Universitas Medan Area. dan InsyaAllah jika tidak ada halangan saya akan Wisuda pukul 8 Pagi nanti,

Cerita Dini hari...
Pagi ini saya bangun sekitar pukul 3 Pagi, tepatnya terbangun oleh anak lanangku "Irsyad Adam Satya Nasution" yang meminta susu dan mungkin sudah Pub. Adam memang sedang kurang enak badan, intensitas BABnya sedang lebih sering dari biasanya.

Selesai membuat susu dari dapur, aku masuk kekamar dan kulihat istriku "Riri Rahmyati Tasran" Sedang menggantikan popok Adam. Terganggu oleh lampu kamar yang dihidupkan, Putriku "Adelia Rayadinata Nasution" mulai gelisah dan terbangun juga dan dia kembali ikut meminta susu.

Biasanya aku tidak tidur lagi, selama menjadi ayah 2 orang anak pukul 3.30 pagi adalah "Me Time" ku. Waktu dimana aku biasanya aku bangun dan mengerjakan skripsiku yang hampir 1 tahun baru tuntas, atau bangun sekedar untuk menonton Film yang tidak sempat kutonton. Biasanya jam segini aku bisa lebih fokus karna adel dan adam sudah tertidur nyenyak sampai pagi.
 
Menjadi ayah ternyata sedikit lebih berat dan jauh lebih menyenangkan daripada gambaran yang kubayangkan dulu.
Salam Hangat...
Ifan Azwar Nasution, S.Sos, S.T 
(Mohon maaf sedikit narsis)